Esquire Theme by Matthew Buchanan
Social icons by Tim van Damme

14

Jul

Ia membayangkan menulis adalah menjadi balerina, begitu lentur dan indah. Geraknya mungkin agak mendayu-dayu, dengan sedikit polesan lompatan emosi sana-sini. Sedangkan yang satunya berkata bahwa menulis adalah menjadi tentara, harus taat pada kaidah dan disiplin. Tak bisa mencla-mencle.
__Menjadi Penulis, disuatu siang yang bolong.

01

May

…end

Rasanya sakit, bukan karena mati dihujam kenyataan. Tapi diperdayai diri, ilusi yang sepantasnya tak pernah menguasai hati. Kemarin bukan hujan es, bukan badai topan besar, bukan juga masa di mana kiamat datang. Hanya masa di mana segalanya memang harus berakhir. Tanpa perlu dirangkai kisah yang pilu setelahnya. Bohong besar kalau apa yang kau sebut menutup diri untuk membuka hubungan lagi akan terjadi padamu. Toh jika memang bahagiamu bukan denganku, ya memang sebaiknya bahagiakan dirimu..

I always said, it was not how you treat your friend.. Mungkin memang ya karena bukan ada yang kau rasakan. Hanya saja kepalaku terlampau batu untuk memahaminya.

Setidaknya waktuku yang telah terbuang sia-sia, semoga menjadi kenang-kenangan untukmu.

Selamat berjumpa dikeabadian bernama, per-sahabat-an.

15

Apr

Status Quo: (Hampir) Genap 2 Tahun

It’s almost 2 years. Dua tahun…
Nggak berasa ya.. Berasa sih, apalagi selalu dikuntit perasaan penuh pertanyaan dan harapan yang dibikin sendiri. Kita, eh gue, nggak pernah bisa jalan kemana-mana meskipun ada bentangan karpet merah untuk mendapatkan kepastian hubungan dengan yang lain. Iye, pait.
Belakangan gue mulai jenuh. Cintaku sebatas PING!! belaka.. Walaupun ketika gue berada di belahan dunia yang lain, kemajuan pesat mulai terjadi. Walaupun ya sebenernya ngga pesat-pesat amat, semua perhatian yang ditunjukkan lewat chit-chat mungkin cuma sebatas sahabat. #yailahhhh
Semesta ngasih tau soal ide brilian gue move on adalah dengan cara coming out tentang perasaan gue. Ibarat sembelit, gue harus coba boker dulu kan? :p Tapi kayaknya ngga bisa dan ngga mungkin. Selain risiko retakan hubungan yang lebih jauh, lagian buat apa juga… Baru aja gue denger lagu yang liriknya, “It is too late to let you know..” :)
Mungkin saat ini gue harus banyak-banyak dengerin logika dibanding perasaan.

Seseorang dari negeri paman sam pernah bilang sama gue, “Tujuan lo menjalin hubungan dengan seseorang bukan untuk melimpahkan tugas membahagiakan diri lo pada orang lain. Tugas itu ada dipundak lo sendiri. Tujuan menjalin hubungan adalah saling bertukar kepercayaan, belajar untuk saling menghargai, melayani satu sama lain. Lo mungkin harus membicarakan dia soal hubungan kalian. Harus ada bargain position.”
Dari situ, gue sadar.. Selama ini gue terlalu takut, dan menaruh diri gue dalam status quo yang merugikan waktu dan sisa ruang perasaan gue. Harusnya nggak begitu.

Tapi semuanya nggak boleh dijadiin penyesalan. Paling nggak, udah terlatih patah hati kan ehehehe ehehehehehe.
Menuju umur baru yang udah ngga belasan lagi, friendzone or orientasizone harus ditinggal dan dilucuti selucut-lucutnya dari jiwa raga.. #AkuRapopo

Kalau kita jadi sahabat, mungkin itu lebih baik. Dibanding ada yang diam-diam berharap dan berilusi sendiri soal status hubungan yang mungkin nggak pernah akan naik level. Udah mentok. Kalau ada keajaiban kita jadi pasangan, paling nggak kita udah saling memahami, dan menaruh posisi yang sejajar sebagai pasangan. Too far to be true sih ahahahaha #mulailagi.

Selamat berlayar kembali, selamat mengarungi lautan lain yang mungkin palungnya lebih dalam.

27

Mar

A love letter

“Only once in your life, I truly believe, you find someone who can completely turn your world around. You tell them things that you’ve never shared with another soul and they absorb everything you say and actually want to hear more. You share hopes for the future, dreams that will never come true, goals that were never achieved and the many disappointments life has thrown at you. When something wonderful happens, you can’t wait to tell them about it, knowing they will share in your excitement. They are not embarrassed to cry with you when you are hurting or laugh with you when you make a fool of yourself. Never do they hurt your feelings or make you feel like you are not good enough, but rather they build you up and show you the things about yourself that make you special and even beautiful. There is never any pressure, jealousy or competition but only a quiet calmness when they are around. You can be yourself and not worry about what they will think of you because they love you for who you are. The things that seem insignificant to most people such as a note, song or walk become invaluable treasures kept safe in your heart to cherish forever.” ― Bob Marley

Dear you, Kadang mengalahkan ego adalah hal paling sulit setelah mengalahkan gengsi. Tapi keduanya sudah tumbang ditengah jalan ketika kita bertemu. Mungkin kamu benar, ada kalanya kita takut tak akan bisa membahagiakan mereka yang kita harapkan ada dalam hidup kita. Mungkin juga aku salah, kalau menjadi bahagia bukan melulu soal selalu ada atau tidak pernah ada. Tapi kita berdua bukan mencari kebenaran atau kesalahan, kita hanya mencari: apakah semua ini hanya perasaan yang berbatas?

Jika kamu merasa ada satu dihari dimana kamu menyadari perasaan itu mulai datang, mungkin aku sudah puluhan malam merasakannya. Sayangnya kita memang berbatas jarak dan beberapa hal yang mungkin saja sulit diubah. Bukan berarti tak pernah ada yang diperjuangkan, tapi memang saja sulit melangkah jika tak mungkin diperjuangkan.

I love you because tears falling down when I saw you with someone else, I love you because I’ve worried about you when you wasn’t around, I love you because my heart sing a song that only me can understand when I hear your voice, I love you because I have no good reason to tell you that I love you, I love you because nobody teach me how to be tough when broken heart, I love you because of your hugs, your silly gaze, your kindness, I love you because you let me bleed while you happy with another person, I love you because we don’t see at the same sky,

Terlalu banyak. Padahal sebenarnya intinya hanya: I love you, and I don’t know why I love you.

Kamu sudah terlalu sering mendapat kata pujian, ungkapan kekaguman, dan lontaran kasih sayang, lalu buat apa aku mengataknnya juga? Aku hanya tak ingin menjadi mereka yang mungkin selalu kamu balas perasaannya, meski tak pernah ada perasaan yang kamu rasakan. Biarkan saja menjadi angin yang pergi tanpa perlu permisi, biar kau pun tak perlu repot memikirkannya tumbuh atau mati.

See u very soon. Happiness.

10

Feb

Indeed.

Indeed.

30

Jan

"Please dont say you love me, cause I might not say it back."
Because I can’t make you love me like you did to me.

Hujan menemani kita berjalan, lalu menyamarkan luka yang tergurat. Menyimpan kenangan dan harapan dalam genangan adalah cara terbaik untuk membuat apa yang kita tanam tetap hidup dan baik-baik saja.

12

Jan

Tanda

Hari ini semesta memberikan pertandanya lagi. Kali ini lewat film. Setting tempatnya pun tempat kita pertama kali bertemu. Ah, atau mungkin aku sudah terlalu dimabuk hingga secara delusional menghubungkan banyak hal denganmu. Entahlah…
Bicara soal pertanda, semesta memberi sinyal bahwa menunggu bukan pekerjaan si pemalas atau si putus asa. Mungkin menunggu adalah hal yang baik untuk dilakukan selagi memang kita memilih untuk berlabuh sementara.
Menunggu juga bukan soal kekangan konstruksi sosial yang mengatakan perempuan tak lazim bicara cinta. Juga bukan soal ketakutan akan penolakan.
Diibaratkan seperti ketika kamu ingun menanam sesuatu yang subur dan baik, kamu harus menunggu, namun jangan lupa untuk merawatnya.

Di persimpangan jalan hidupku nanti pasti aku akan bertemu seseorang dan mungkin aku akan melupakan untuk menunggumu.
Tapi setidaknya aku sudah merawat perasaan itu dan membiarkannya tumbuh hingga kelak mekar bunganya membuatmu merasa damai.

09

Jan

Wanita dan Boneka

"Bajingan!"
Sebuah gelas melayang keras ke tembok. Ada kemarahan membara di tengah ruangan itu.

"Kamu emosian banget sih? Kamu pikir setiap gelas yang terbang ke tembok akan bikin masalah kita selesai?" Lelaki itu berdiri dari duduknya yang agak gelisah.

"Seenggaknya bisa nyelamatin kepala lo yang kepingin banget gue lempar." Wanita itu sudah agak tenang, ia membereskan pecahan-pecahan beling yang ia sebabkan. "Lo lupa ya? Apa IQ lo udah mulai tiarap?"

"Din, yang kamu lihat belum tentu benar adanya. Yang di otak kamu dengan yang terjadi sebenarnya tuh beda.."

"Lo pikir selama ini lo paham dengan apa yang ada di kepala gue? Apa yang ada di hati gue? Apa yang gue rasa? Iya? Nggak!"

"Din…."

"Silakan lo pergi dengan perempuan lain di luar sana. Lakukan apa yang lo mau. Tapi…. Jangan. Pernah. Coba. Pegang. Boneka. Gue." Ia nampak menahan emosinya yang memuncak sambil menarik seutas senyum lalu kembali diam.

"Ini udah tahun ketiga kamu nangis terus setiap lihat boneka itu, aku paham kamu masih sayang sama Mas Surya. Tapi kamu pikirin perasaan aku juga.. Kamu lebih pilih ngobrol dengan boneka dibanding aku. Aku salah apa? Aku kurang sayang apa sama kamu?"

Wanita itu tak lagi diam, air mata menetes begitu mendengar nama Mas Surya. Ia kembali melempar barang-barang yang ada di dekatnya. Ia tertawa, lalu menangis lagi.
Masa lalu memeluknya dalam kepedihan.

-2011, sekitar bulan Juni seorang laki-laki ditemukan tewas di loteng rumah seorang wanita pengusaha boneka. Kematiannya dipastikan terjadi sekitar dua hari sebelum mayatnya ditemukan. Belum ada kabar yang jelas mengenai siapa pembunuhnya. Namun dicurigai seorang wanita pemilik rumah tersebut adalah pelaku tunggal. Sayangnya pasca ditemukan mayat laki-laki itu, sang wanita nampak depresi dengan memeluk sebuah boneka setiap hatinya tanpa bicara satu patah kalimat pun selain ‘Mas Surya’ hingga penyidik kesulitan mendapat keterangan darinya-

"Mas Surya…." ia menangis tersedu sambil memeluk bonekanya lagi.

"Surya lagi, Surya lagi.. Dia udah mati! Mayatnya udah dimakan sama belatung! Udah dikubur dibawah tanah!" Giliran ia yang meninggikan volume suaranya.

"Bajingan!!!" Perempuan itu menoleh ke arah lelaki itu dengan mata yang tajam.

"Din, aku udah melakukan semua hal untuk kamu. Aku udah…"

"Termasuk bunuh Mas Surya?" Ia menyela. Ada hening yang panjang di antara mereka.

"Dia emang harusnya mati. Orang yang menghalangi cinta aku sama kamu emang harus mati! Surya gak pantes jadi tunangan kamu! Aku, bertahun-tahun sebelum kamu ketemu Surya, aku selalu ada buat kamu. Tapi kenapa kamu lebih pilih Surya? Kenapa?"

Wanita itu menangis. Makin tersedu. Membayangkan apa yang dilakukan lelaki itu hingga merenggut nyawa Mas Surya, tunangannya. Ia memeluk kakinya dalam-dalam. “Bajingan! Bajingan!!!”

"Tapi kenapa semuanya jadi begini, Din..  Kenapa kita belum juga bisa bersatu? Kenapa perasaan kamu masih belum bisa lepas dari Surya? Kenapa kamu yang dituduh orang-orang? Kenapa kamu akhirnya dipenjarakan di rumah sakit ini? Din…. Maafin aku….." Pria itu berdiri lemas sambil menyandar di tiang gantungan jaket. "Aku tau apa yang harus aku lakukan biar penderitaan kamu berakhir. Aku tau, sayang."

"Pergi… Pergi!!! Suster!! Suster!!! Sus….."
Suara teriakan itu berakhir. Tidak ada yang curiga dengan teriakan tersebut, para suster abai karena merasa sudah terbiasa dengan teriakannya.
Lelaki yang sejak tadi di kamarnya mengecup kening perempuan itu dengan mesra, “Selamat tidur sayang.. “
Lalu pergi tanpa pernah kembali.

-2014, awal Januari. Terduga pelaku pembunuhan pada tahun 2011 ditemukan tewas bersimbah darah di antara pecahan-pecahan beling beberapa gelas di kamarnya. Polisi menduga ia dibunuh oleh seseorang yang kabur melewati jendela. Menurut keterangan suster yang biasa menjaga kamar tersebut, belum ada yang berkunjung ke kamarnya pada hari kejadian.-

"Jika mencintai adalah melepaskan. Maka aku melepaskan kamu untuk berbahagia dengan dia, Din. Tapi tidak di depan mataku." Seorang lelaki berbisik kecil pada nissan perempuan itu. Tak lama ia pergi dari pemakaman, berlalu bersama angin membawanya.

Cengkrama Manusia

Sekali satu aku pernah bercengkrama dengan bayangan. Ia mengeluhkan bagaimana aku mengabaikannya.

"Kamu lupa? Tanpaku, kamu tak disebut manusia."
“Maksudnya?” Aku mengerutkan kening, bayangan yang aneh.
“Sudah seringkan kau dengar idiom soal setan yang tak ada bayangan? Kau ini setan apa manusia?” Ia sedikit bernada tinggi.
“Tunggu, tunggu.. Jadi kau marah padaku karena aku mengabaikanmu? Kau ini kan bayangan, kenapa ingin lebih? Bukankah sudah kodratnya kau.. “
“Kau apa?” Ia menyela, “Kau sendiri sering merasa orang-orang abai. Tapi kau melakukan hal yang sama seperti manusia-manusia setan di luar sana.”

Aku diam, cukup lama untuk sekedar bengong di depan bayanganku sendiri.

"Kau benar…" ucapku dalam hati.

Semenjak itu, kadang aku berjalan tanpa arah mengikuti kemana bayanganku ingin pergi. Kini aku tak sendirian, aku memiliki sahabat yang selalu ada di saat senang maupun sedihku.

01

Jan

Farewell 2013

Tahun berganti tahun, Momen berganti momen, Satu pergi satu datang dan begitu selanjutnya. Kehidupan berputar. Tahun 2013 mungkin adalah tahun pijakan paling kuat dan paling menyenangkan dibanding tahun sebelumnya. Kalau 2012 gue bertemu orang-orang yang sangat gue idolakan, di tahun 2013 gue bertemu banyak orang yang menginspirasi gue untuk selalu bersyukur dan bekerja dengan hati. (Yaelah kerjaan lagi…)

Gue nggak pernah menuliskan momen-momen dari awal tahun hingga akhir tahun lalu merefleksikan semuanya. Gue pelupa. Bukan acuh tak acuh dengan tahun demi tahun, tapi memang lebih asyik kalau mengingatnya secara alami, jadi kita tahu mana yang perlu untuk diingat dan penting untuk dilupakan.

Tahun 2013 gue berhasil nonton ke bioskop. Aneh sih, prestasi apa yang di dapat dari nonton bioskop? LOL. Sepanjang 2012 gue nggak pernah ke bioskop (atau mungkin gue lupa?) karena gue nggak suka gelap, nggak suka baunya, dan nggak suka dengan sesuatu yang muncul di kepala gue ketika gue ada di bioskop. Setidaknya gue mengeliminasi ketakutan gue dengan memori lama bioskop dan ke-tidak-suka-an gue dengan bau bioskop. Apa cuma gue, atau bau bioskop itu emang too much ya?

Ini tahun pertama gue genap bekerja dengan Aliansi Remaja Independen. Sebenarnya gue masih bertanya ‘kenapa’ meski dengan angle yang berbeda. Kenapa harus disamakan jika berbeda? Kenapa mempermasalahkan cinta? Kenapa kita begini, begitu, dan bla-bla-bla. Setidaknya gue bisa meningkatkan level berpikir gue yang tadinya hanya berpikir bagaimana caranya bisa main kesana kemari dan memikirkan hal-hal remeh temeh jadi lebih berpikir soal bagaimana caranya agar sesuatu lebih baik.

Ketika genap 19 tahun, gue pergi ke suatu tempat, sebut saja sentul. Dengan empat teman gue yang biasanya gue sebut ‘kloter bogor’. Entah memang sengaja atau tidak, Tuhan menciptakan hari Minggu ketika gue ulang tahun saat itu. Setidaknya gue tidak sendirian ketika momen bahagia gue, dan gue melewatkannya dengan orang-orang yang gue mau. Sebelumnya, gue harus pergi ke Pulau Tidung untuk keperluan kuliah. Ke pantai di Pulau Tidung termasuk hal yang menyenangkan di tahun ini, karena akhirnya gue melepaskan ketakutan gue pada laut. Bahkan gue memberanikan diri duduk di pinggir perahu. Perasaan yang paling penting adalah gue menemukan diri gue sangat terikat dengan sebuah persahabatan. Sampai gue harus sadar jika orang yang gue sayangi adalah sahabat gue sendiri. Tapi ya sudahlah ya, mungkin memang caranya memelihara kasih sayang adalah dengan persahabatan.

Tahun 2013 kemarin, akhirnya gue naik pesawat lagi setelah sekian lama. Dari kecil mama selalu bilang kalau keadaan gue tidak terlalu bagus jika dibawa naik pesawat. Lemah jantung katanya. Makanya kalau mau kemana-mana, mama hanya membolehkan gue menggunakan jalur darat. Tapi sekalinya naik pesawat, gue menempuh 3 jam. Iya, tahun ini gue ke Bangkok. Yeay! Bukan untuk jalan-jalan sayangnya. Seperti yang gue ceritakan di atas kalau gue bekerja bersama Aliansi Remaja Independen, dan akhirnya keberuntungan mampir di tahun ini untuk gue, gue mewakili ARI bersama salah seorang teman (sebut saja Kak Faiqoh) untuk menghadiri 3 pertemuan. Dua minggu lamanya. Pertama kalinya gue jauh dari rumah untuk bekerja. Dengan bahasa Inggris gue yang hasil dari cabut-cabut les selama 1 tahun.

Bangkok menyenangkan untuk orang yang suka menggunakan kendaraan umum macam gue. Makan babi adalah ritual yang gue alami (meski sekarang gue was-was, apakah gue cacingan setelah makan babi). Yang paling menarik adalah ketika lo menemui orang-orang dari berbagai negara di Asia-Pasifik dan menemukan watak yang berbeda-beda dari tiap negara. Oh iya, selama di Bangkok gue dekat dengan Kak Eki, karena Kak Eki memberikan tumpangan kamar untuk gue selama 3 hari dan akhirnya gue bercerita banyak dengan dia. Setidaknya gue bersyukur bertemu dengan teman yang dengan baik hati mau membantu gue berkomunikasi dengan bahasa Inggris, mau mengalah tidur di kursi tamu padahal gue yang numpang, mau mengomentari baju gue yang amburadul sebelum ikut farewell party, mau memberikan ilmunya ke gue, mau dengan sabar jalan dengan gue yang galak, mau mengendap-endap ke restoran bareng gue karena gue numpang di kamarnya, dan lain sebagainya. Walaupun emang si kampret ini suka repot sendiri dan lebih ceroboh dari gue, tapi seminggu bareng dia emang menyenangkan. Pengalaman melihat politik di ranah regional memang semakin bikin gue yakin kalo politik itu tai kucing, kotor, sialan… Melihat di ranah nasional aja udah bikin muak, apalagi lihat posisi Indonesia yang selalu disenggol-senggol kepentingan Rusia dan Iran. Gue belum melihat seberapa posisi Indonesia kalau ada Amerika, sih.

Almost in the end of year, I had big conflict with some friends, well, it wasn’t too big, sih. Tapi gue bersyukur jika sekarang mereka menerima gue apa adanya dan begitu pula dengan gue. Senang ketika perubahan yang baik terjadi adalah hal paling penting buat gue.

Friendzone adalah tren yang muncul di 2013, dan gue dua kali mengalaminya. Bahkan yang terakhir agak menyakitkan karena di depan mata, gue lihat dia dengan orang lain di kamarnya meskipun dia sudah pernah bilang sesuatu yang membuat gue merasa ada sesuatu yang berbeda diantara kami. Gue merasa tahun ini lumayan menyebalkan untuk soal cinta. Gue berpikir ‘kenapa’ berkali-kali, hingga akhirnya gue mengerti. Mungkin alasan mengapa gue jatuh cinta pada sahabat gue, dengan laki-laki yang berorientasi berbeda, adalah karena memang cinta bukan hanya diberikan untuk partner. Kalau memang belum waktunya kita memiliki pasangan, perasaan itu bisa saja diberikan kepada sesama. Dan yang paling penting, tidak ada perasaan yang boleh dipaksakan.

Setiap detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, selalu punya momen yang mungkin bisa saja selewat atau selalu menempel di kepala. Tapi yang harus diingat adalah bagaimana kita berpijak di momen tersebut untuk bisa melangkah ke momen selanjutnya dengan lebih kuat.

Terima kasih 2013, selamat datang 2014!

31

Dec

Jika menjadi bintang paling terang adalah cara agar kamu bisa melihatku, sepertinya aku memilih menjadi bintang paling redup yang mungkin tak terlihat namun nyatanya paling dekat denganmu

Di Natal yang mendung

20

Dec

Bintang yang Paling Dekat

Kamu pernah berkata, “Jika melupakan memang sulit, lalu buat apa buang waktu? Kalau kamu butuh seseorang untuk membuat kamu lupa, kamu boleh mengingat aku..” Lalu aku merangkak mengakhiri pertengkaran dengan pikiranku pada malam itu berkat genggaman tanganmu meyakinkanku, dan mulai berdamai dengan bayangan tentangnya. Kecup dikepala itu membantuku berpikir agak jernih soal kenyataan.

Sayangnya kamu lupa memberitahuku caranya lupa padamu. Sayangnya kamu lupa memberitahuku caranya membalas kecupan itu..

Sayangnya bintang yang paling dekat denganmu bukanlah aku, bukanlah perempuan lain, bukan juga orang yang tak kuketahui.

Malam itu, aku menyadari ada ruang kosong yang mulai kau isi. Namun ketika itu pula segalanya meradang, sesakit terjatuh ke palung samudera. Tepat ditelingaku, kau mencumbu seseorang, kau mengatakan ada bintang yang paling dekat denganmu, kau memeluk bahkan mengisi dirimu dengan dirinya. Aku belum tuli untuk berpura-pura tak mendengar, aku terlalu rapuh untuk tak menangis mendengarnya.. Aku biarkan malam tiap malam kuakhiri dengan doa, semoga kau bisa berbahagia.

Terima kasih atas pelukan, genggaman, sentuhan dan kecupan paling menenangkan. Biarkan aku selalu bersembunyi dalam doa dan senyum agar kau selalu bahagia apapun orientasimu dan dengan siapa kamu memilih bersama. Aku tak ingin menjadi bintang seperti yang kau katakan padanya, aku hanya ingin memelukmu hangat lewat semesta..