1. Aku dibuang ibuku. Katanya ia sudah banyak punya anak, ia pusing harus mengurusi banyak mulut untuk diberi makan dan disusui. Sayangnya aku yang dibuang olehnya. Tapi aku tak ingin memanggilnya biadab, bajingan, atau ungkapan kasar lainnya, aku ingin memanggilnya ibu.


    Ayahku entah ada di mana. Aku terlalu kecil untuk menanyakan di mana rimba ayahku dan meminta untuk diasuh olehnya. Tak lama setelah ayah pergi, Ibu selalu dikunjungi pria-pria lain yang berbeda setiap waktu, mereka menggoda ibu meski sedang menyusui anak-anaknya, untungnya ibu tak begitu tertarik untuk melayani si hidung belang busuk yang datang.


    Lalu hiduplah aku sebatang kara, entah sudah berapa lama aku di jalan. Kelaparan, kedinginan, kepanasan, hampir mati dilindas besi-besi bermesin yang lewat, ditendang ke jalan, sudah tak terhitung banyaknya kualami meski masih sekecil ini.


    Mataku gelap sebelah, tak bisa kubuka sejak aku lahir ke dunia. Mungkin itu alasannya ibu membuangku. Saudara-saudaraku yang lain memiliki dua mata dan anggota tubuh yang lengkap, jika ada yang mati mungkin sesaat setelah dilahirkan karena kedinginan. Hidup ini terlalu berat untukku, mungkin untuk semua yang seusia denganku.

  2. Satu waktu aku pernah berjumpa dengan seseorang di dunia tak bernama, ia memperkenalkanku pada rasa yang kucari bertahun. Ia sempat mengajakku mengelilingi orbitnya, belum kupercayakan untuk berjalan di orbitku sementara ini. Mendadak, aku merasakan hangat. Jika bahagia pernah punya bentuk, mungkin ia seperti ini. Hangat.

    Satu waktu pula aku sadar setelahnya, bahwa pelukan yang ia rentangkan tak hanya untukku. Lalu tiba masanya di mana aku mempertanyakan yang mungkin tak pernah ku rasa dapatkan. Kepastian. Meski aku menyadari terlalu dini menjadi ini.

    Tapi pernahkah pertimbangan memberikan perasaan hanya sekedar bertukar kabar lalu membicarakan rencana masa depan? Lalu apa guna kita berusaha? Berusaha mengimbangi jarak dan waktu yang tak tersempatkan.

    Lain kali, tak perlu mengetuk hati sekali dua atau tiga. Karena bukan perkara setia saja, merengkuh banyak takkan menghasilkan hangat.

  3. Dia pergi. Menjauh bersama angin. Membawakanku ribuan pertanyaan yang tertinggal.
    Ah, aku sedang kurang puitis akhir-akhir ini. Yang ingin kutulis hanya tai kucing dan persetan dengan cinta.
    Tapi kemudian aku merebahkan diri, lalu terdiam, lama. Aku kembali merefleksikan apa yang kemarin kulakukan. Tanpa dendam, tanpa benci.
    Aku pikir aku akan menangis. Menangis meraung-raung lalu merapalkan cacian tentangnya. Sakit. Rasanya aku ingin menendang ubun-ubunnya lalu kusiram dengan rebusan, biar mendidih. Kenyataannya, aku hanya diam. Tanpa ekspresi dan tanpa emosi. Aku mencoba sekuat tenaga mencari cara melepaskan ego.

    Kamu pernah berkata kalau saja kita bertemu dengan keadaan yang berbeda, kalau saja. Mungkin kau memilih bersama denganku.
    Begitu katamu..

  4. Ego ini kembali menyeruak

    Mengganggu tenangnya batin yang tertidur

    Rasa dan asa yang kubungkus dengan pilu

    Menggeliat meminta diketuk kembali

    Olehmu..

    Mungkin belum terlambat

    Jika saatnya nanti kita kembali

    Meski memang tak kan pernah jadi satu

    Setidaknya aku tak sendirian merengkuh kalbu

    Tapi apakah belum cukup terlambat untuk kita?

    Apakah sisa rasa mampu menjalinkan kita menjadi satu?

    Kurasa jawabannya memang tidak.

    Sesering apapun kita meyakinkannya sepenuh hati

    Setidaknya, kita pernah mencoba bersama.

  5. Mampir ke arah mata angin yang satu itu memang selalu memberi cerita dengan inspirasi yang mengalir bak mata air. Aku seperti sedang tertidur di ayunan sambil didongengi kisah-kisah baik yang selalu mencerahkan. Bercengkrama, bertukar kisah, kadang saling melontarkan patahan-patahan lelucon yang mungkin bagi orang lain tak selucu jika kami yang mendengarkannya. Rasanya seperti mimpi di siang bolong. Dia memang seindah senja, walau kadang tabiatnya gelap seperti langit yang ditinggal oleh bulan. Ia mengingatkanku pada seseorang yang sudah lama tak ku sapa, mungkin kini seseorang itu sudah menjadi malaikat Tuhan paling humoris dan perhatian di surga…

  6. G.

    Kau tau, Kadang memang secangkir kopi, membuat diriku terjaga sepanjang malam. Begitupun dengan pikiranku tentangmu

    Kubaca lagi buku yang sering kita bicarakan dulu, yang kubilang punya akhir cerita yang manis

    Aku bertanya-tanya, Mengapa jalan cerita kita sama dengan isi buku itu? Mengapa getir yang terasa pun sama ketika membaca buku itu? Sayang, tak pernah kutemui jawabnya.

    Kugy, Keenan, Aquarius. Nama panggilanku dan nama panggilanmu, serta rasi bintang kita yang sama. Ah, mungkin hanya aku yang terlalu banyak membaca buku itu..

    Kuharap kau selalu berbahagia, agen Geminius.

  7. Ia membayangkan menulis adalah menjadi balerina, begitu lentur dan indah. Geraknya mungkin agak mendayu-dayu, dengan sedikit polesan lompatan emosi sana-sini. Sedangkan yang satunya berkata bahwa menulis adalah menjadi tentara, harus taat pada kaidah dan disiplin. Tak bisa mencla-mencle.
    __Menjadi Penulis, disuatu siang yang bolong.
  8. Rasanya sakit, bukan karena mati dihujam kenyataan. Tapi diperdayai diri, ilusi yang sepantasnya tak pernah menguasai hati. Kemarin bukan hujan es, bukan badai topan besar, bukan juga masa di mana kiamat datang. Hanya masa di mana segalanya memang harus berakhir. Tanpa perlu dirangkai kisah yang pilu setelahnya. Bohong besar kalau apa yang kau sebut menutup diri untuk membuka hubungan lagi akan terjadi padamu. Toh jika memang bahagiamu bukan denganku, ya memang sebaiknya bahagiakan dirimu..

    I always said, it was not how you treat your friend.. Mungkin memang ya karena bukan ada yang kau rasakan. Hanya saja kepalaku terlampau batu untuk memahaminya.

    Setidaknya waktuku yang telah terbuang sia-sia, semoga menjadi kenang-kenangan untukmu.

    Selamat berjumpa dikeabadian bernama, per-sahabat-an.

  9. “Only once in your life, I truly believe, you find someone who can completely turn your world around. You tell them things that you’ve never shared with another soul and they absorb everything you say and actually want to hear more. You share hopes for the future, dreams that will never come true, goals that were never achieved and the many disappointments life has thrown at you. When something wonderful happens, you can’t wait to tell them about it, knowing they will share in your excitement. They are not embarrassed to cry with you when you are hurting or laugh with you when you make a fool of yourself. Never do they hurt your feelings or make you feel like you are not good enough, but rather they build you up and show you the things about yourself that make you special and even beautiful. There is never any pressure, jealousy or competition but only a quiet calmness when they are around. You can be yourself and not worry about what they will think of you because they love you for who you are. The things that seem insignificant to most people such as a note, song or walk become invaluable treasures kept safe in your heart to cherish forever.” ― Bob Marley

    Dear you, Kadang mengalahkan ego adalah hal paling sulit setelah mengalahkan gengsi. Tapi keduanya sudah tumbang ditengah jalan ketika kita bertemu. Mungkin kamu benar, ada kalanya kita takut tak akan bisa membahagiakan mereka yang kita harapkan ada dalam hidup kita. Mungkin juga aku salah, kalau menjadi bahagia bukan melulu soal selalu ada atau tidak pernah ada. Tapi kita berdua bukan mencari kebenaran atau kesalahan, kita hanya mencari: apakah semua ini hanya perasaan yang berbatas?

    Jika kamu merasa ada satu dihari dimana kamu menyadari perasaan itu mulai datang, mungkin aku sudah puluhan malam merasakannya. Sayangnya kita memang berbatas jarak dan beberapa hal yang mungkin saja sulit diubah. Bukan berarti tak pernah ada yang diperjuangkan, tapi memang saja sulit melangkah jika tak mungkin diperjuangkan.

    I love you because tears falling down when I saw you with someone else, I love you because I’ve worried about you when you wasn’t around, I love you because my heart sing a song that only me can understand when I hear your voice, I love you because I have no good reason to tell you that I love you, I love you because nobody teach me how to be tough when broken heart, I love you because of your hugs, your silly gaze, your kindness, I love you because you let me bleed while you happy with another person, I love you because we don’t see at the same sky,

    Terlalu banyak. Padahal sebenarnya intinya hanya: I love you, and I don’t know why I love you.

    Kamu sudah terlalu sering mendapat kata pujian, ungkapan kekaguman, dan lontaran kasih sayang, lalu buat apa aku mengataknnya juga? Aku hanya tak ingin menjadi mereka yang mungkin selalu kamu balas perasaannya, meski tak pernah ada perasaan yang kamu rasakan. Biarkan saja menjadi angin yang pergi tanpa perlu permisi, biar kau pun tak perlu repot memikirkannya tumbuh atau mati.

    See u very soon. Happiness.

  10. Indeed.

    Indeed.

  11. "Please dont say you love me, cause I might not say it back."
    Because I can’t make you love me like you did to me.

  12. Hujan menemani kita berjalan, lalu menyamarkan luka yang tergurat. Menyimpan kenangan dan harapan dalam genangan adalah cara terbaik untuk membuat apa yang kita tanam tetap hidup dan baik-baik saja.

  13. Hari ini semesta memberikan pertandanya lagi. Kali ini lewat film. Setting tempatnya pun tempat kita pertama kali bertemu. Ah, atau mungkin aku sudah terlalu dimabuk hingga secara delusional menghubungkan banyak hal denganmu. Entahlah…
    Bicara soal pertanda, semesta memberi sinyal bahwa menunggu bukan pekerjaan si pemalas atau si putus asa. Mungkin menunggu adalah hal yang baik untuk dilakukan selagi memang kita memilih untuk berlabuh sementara.
    Menunggu juga bukan soal kekangan konstruksi sosial yang mengatakan perempuan tak lazim bicara cinta. Juga bukan soal ketakutan akan penolakan.
    Diibaratkan seperti ketika kamu ingun menanam sesuatu yang subur dan baik, kamu harus menunggu, namun jangan lupa untuk merawatnya.

    Di persimpangan jalan hidupku nanti pasti aku akan bertemu seseorang dan mungkin aku akan melupakan untuk menunggumu.
    Tapi setidaknya aku sudah merawat perasaan itu dan membiarkannya tumbuh hingga kelak mekar bunganya membuatmu merasa damai.

Next

Sempadan Asmarandana

Paper theme built by Thomas